Wednesday, October 06, 2004

Bahasa kiasan dalam puisi

Kekuatan Imaji dalam Ikan Terbang Tak Berkawan - Abang Eddy Adriansyah
Dikemas 04/01/2004 oleh Editor


Setelah 25 tahun menjalani proses kreatif sebagai seorang penyair, Warih Wisatsana, pemegang Borobudur Award, sebuah penghargaan tertinggi di bidang kepenyairan, akhirnya menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi. Kumpulan yang memuat 51 judul puisi tersebut adalah kumpulan pertama yang pernah diterbitkan selama karier kepenyairannya. Sudah barang tentu, menengok masa pengalaman kepenyairannya yang amat teruji secara konsistensi maupun produktivitas, puisi-puisi buah karya Warih Wisatsana dalam kumpulan berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan ini pastilah terdiri dari karya-karya yang selektif. Hal itu bisa ditilik dari tenggat penerbitan kumpulan ini dengan waktu kiprah kepenyairannya.

Sebuah karya yang terbit tak seketika, tentunya telah menempuh berbagai proses berobjektif kesempurnaan menurut pandangan pembuat karya tersebut. Demikian pula kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan ini. Minimal dari konsep kreatif Warih Wisatsana yang dikemukakan pada salah satu paragraf kata penutup kumpulan ini, ia menandaskan, “Dalam proses kreatif saya, tak ada puisi yang tercipta sekali jadi. Pengalaman pribadilah yang mengajarkan, bahwa setiap puisi yang pada awalnya dianggap telah selesai, bahkan telah dipublikasi, beberapa waktu kemudian ketika dibaca ulang selalu ‘membujuk’ minta diberi arti lagi.”

Sudah tentu, proses kerja keras tersebut menandakan bahwa penyair berusaha dengan sungguh-sungguh menunaikan tugas utama kepenyairannya, yaitu berbagi pengalaman dengan para pembaca atau apresiator puisi. Yang dengan itu berarti pula ia telah berupaya keras menyuguhkan imaji yang segar untuk puisi-puisinya, apalagi inspirasi penciptaan karya tersebut diperoleh dari berbagai pertemuan, perjalanan, maupun pengahayatan karya sastrawan lain.

Menurut pengamat sastra Drs. Atmazaki dalam buku Analisis Sajak: Teori, Metode, dan Aplikasi, jika penyair ingin berbagi pengalaman, tentulah ia akan menggunakan imaji yang hidup dalam puisinya. Dengan imaji yang hidup, apa yang didengar, dirasa, dihayati penyair yang termaktub dalam karyanya ikut pula didengar, dirasa, dan dihayati oleh para pembaca puisinya. Kadangkala melahirkan persepsi yang sama, atau bahkan menetaskan pengalaman baru. Karena, tanpa kesungguhan menghadirkan imaji yang hidup, eksistensi puisi seorang penyair hanya bisa berperan sebatas gejala pinggiran saja dalam ranah kesusastraan, sebab tidak pernah mengalami proses tukar pengalaman yang harmonis. Pada suatu kurun, bisa jadi karya-karyanya tinggal letupan pinggir, kendati mungkin juga meninggalkan bekas.

Jika imaji yang segar dikatakan sebagai pokok berbagi pengalaman, penggunaan majas, penggarapan retorika, pemilihan diksi, penataan bunyi, dan banyak teknik manipulasi bahasa untuk efek pengasingan adalah unsur penunjang dalam mempertegas pengimajian sebuah puisi. Pada kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan ini, unsur-unsur tersebut tegak mengimbuhi pengalaman sang penyair yang inspirasinya menurut beliau kebanyakan diperoleh dari pengalaman bersua dengan sosok-sosok pribadi yang unik, berkunjung ke tempat-tempat yang memikat, peristiwa besar, sampai influensi dari karya-karya sastrawan lain (Warih Wisatsana dalam esainya “Pertemuan, Inspirasi, Penciptaan”).

Keterpaduan unsur-unsur pengimajian itu terlintas kuat pada dua puisi awal kumpulan ini, yaitu “Api Bulan Mei” dan “Langit Pucat Bulan Oktober”. Keduanya berlatarkan tragedi kerusuhan Mei 1998 dan peristiwa Bom Bali 2002. Pilihan judulnya saja sudah bisa menstimulus pembaca untuk meneliti pengalamannya, merespons, menguak memori, lantas mengira-ngira apa yang terjadi pada waktu-waktu tersebut.

Keberhasilan pengimajian dari kedua sajak itu karena kecermatan pemilihan diksi hingga membentuk kiasan yang memperhalus imaji pembaca sekaligus memberikan efek puitik yang sensasional. Hal itu terlintas dalam cuplikan lirik “Api Bulan Mei” berikut ini.

Setelah padam inti api
Jadi nyata kini;
Itu desis kayu hangus
Atau bunyi tulang meletus

Kepada seorang ibu yang tersedu
Kubisikkan dengan sedih kata-kata hiburan;

Angkasa ini menyala karena pesta kembang api.

atau cuplikan lirik “Langit Pucat Bulan Oktober”:

Setiap orang bertanya. Ingin menyaksikan
Mawar pengantin terlepas dari tangan
Hangus terseret hawa panas
Terlindas kaki-kaki cemas yang bergegas

Di sini panas, Ibu, haus, haus sekali !

Dari cuplikan itu, pembaca mendapatkan imaji pendengaran, penglihatan, dan perabaan yang sensasional. Mengapa sensasional? Sebab, dalam larik-larik tersebut pilihan diksi berperan membentuk bahasa kiasan yang menghadirkan realitas dari dimensi yang lebih luas. Hal itu terlihat dari bagaimana penyair mengiaskan seolah-olah ia tengah menghibur seorang ibu yang tersedu dengan mengatakan bahwa api yang menyala dalam kerusuhan Mei itu hanya berasal dari pesta kembang api (“Api Bulan Mei”), atau bagaimana penyair menggambarkan orang-orang yang mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam peristiwa bom Bali dalam larik:

Setiap orang bertanya
Ingin menyaksikan
Mawar pengantin terlepas dari tangan
Hangus terseret hawa panas
Hangus terlindas kaki cemas yang bergegas
(“Langit Pucat Bulan Oktober”).

Kesemua lirik itu hadir sebagai realitas yang dipuitisasi dengan pemilihan diksi dan pembentukan bahasa kiasan yang teramat dalam, sehingga kedua peristiwa tragedi tersebut diproses secara inderawi oleh pembaca sebagai rangsangan untuk menyikapi peristiwa tersebut dengan perenungan dalam, bukan emosi spontan.

Selain kekuatan diksi yang membentuk bahasa kiasan, pertimbangan irama telah membuat kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan ini sarat pula dengan langgam atau nyanyian. Puisi imaji yang berirama bukan sekadar media berbagi pengalaman bak dua orang yang bertemu, minta api rokok, menanyakan alamat atau tempat, lantas berpisah. Puisi imaji yang berirama membuat proses pertukaran pengalaman bak dua orang yang bertemu di kafe atau taman teduh, saling menanyakan kabar, menikmati rokok sama-sama, lantas berjanji untuk saling bertemu lagi di suatu saat. Jelasnya, revitalisasi irama dan bunyi pada puisi-puisi penyair Warih Wisatsana ini membuat seluruh sajak dalam kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan sebagai kumpulan sajak yang enak dinikmati. Gejala itu dapat disimak dalam salah satu sajak yang termuat dalam kumpulan ini, “Avenue Charles de Gaulle”, yaitu:

Karena mata abai akan seringai
Aku sesat
Gigil
Dalam mantel dan syal kumal

Serupa serangga tua buta
Yang hilang ingatan
Sia-sia kuraba sisa cahaya di udara
Berputar-putar dari taman ke taman
Dari stasiun ke lain stasiun

Jangan, jangan tutup rapat loketmu !

Dalam cuplikan tersebut terlihat bagaimana bunyi-bunyi musikal yang merdu (efoni) atau bunyi-bunyi nonmusikal (kakafoni) berpadu membentuk irama atau metrum yang indah. Selain itu—lagi-lagi karena ketepatan pemilihan diksi—, ia menjadi puisi yang tidak sekadar berpantun, pulang ke cara lampau. Sebuah gejala yang biasanya terjadi pada puisi-puisi yang coba hirau pada irama.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa puisi-puisi yang terkumpul dalam Ikan Terbang Tak Berkawan ini merupakan puisi-puisi imaji yang mudah diapresiasi karena kaya akan dedah pengalaman sekaligus hirau pada estetika metrum sehingga enak dinikmati. Terbitnya kumpulan puisi ini menurut komentar editorial penerbitnya, menandakan bahwa puisi-puisi berwarna nyanyian, yang tidak prosais, masih terus ditulis. Potensi kumpulan puisi ini tidak sekadar menstimulasi gejala pinggiran. Ia berpotensi menjadi pelengkap, pengimbuh kancah perpuisian atau kesusastraan Indonesia yang tengah beranjak ke muka.

Bandung, 10 Desember 2003

---------------------
*) Abang Eddy Adriansyah. Lelaki yang bekerja sebagai copywritter pada perusahaan periklanan AdMQ, PT MQ ini menulis di suplemen “Kalam” Harian Republika untuk lembar MQ. Ia juga penulis tetap di www.manajemenqolbu.com, kontributor prosa di www.bumimanusia.or.id, dan menulis artikel keluarga Islam di www.kotasantri.com. Kini tinggal di Jl. Pentaconta.No.8 Komp.TELKOM Cimahi-Bandung 40535.

Taken from: http://cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3894